
Nilai impor tahun 2006 mencapai 1,2juta , turun sekitar 0,2 juta dari nilai impor 2006 yang mencapai 4 juta. Periode 2006 nilai impor melalui Jakarta di luar Kawasan Berikat mencapai 5 juta,dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 3juta.
Pada tahun 2006 nilai impor mencapai 5 juta. Menurut golongan penggunaan barang , nilai impor periode 2006 adalah sebagai berikut: untuk barang konsumsi nilai impor sebesar 1,2 juta, bahan baku dan penolong yang merupakan dari keseluruhan nilai impor periode 2006 mencapai 3,3 juta. Sedangkan impor barang modal secara keseluruhan bernilai 1,8 juta.
Jenis komoditi impor yang mempunyai nilai tertinggi pada periode 2006 adalah mesin/pesawat mekanik; mesin peralatan listrik; kendaraan dan bagiannya; besi dan baja; dan bahan bakar mineral.
Peningkatan nilai impor barang konsumsi menunjukkan peningkatan penggunaan devisa. Naiknya nilai impor bahan baku & penolong, menunjukkan meningkatnya kinerja sektor riil yang diindikasikan bertambahnya kebutuhan akan bahan baku dan penolong dari perusahaan-perusahaan industri. Hal ini tentu akan meningkatkan kapasitas terpakai dari mesin-mesin produksi yang tersedia. Sedangkan peningkatan nilai barang modal merupakan sinyal bahwa iklim investasi di Jakarta masih kompetitif dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, atau untuk wilayah yang lebih luas, Indonesia merupakan wilayah yang masih menarik untuk investasi dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya jika dibandingkan dengan negara-negara sedang berkembang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar